Langsung ke konten utama

Majalengka - Bogor

Perjalanan pertama saya menempuh jarak ratusan kilometer seorang diri. Bukan hanya seorang diri tapi pertama kali saya ke Bogor. Artinya, saya sama sekali buta dengan yang namanya kota Bogor.

Awalnya saya ragu untuk pergi ke bogor karena saya sama sekali belum kesana. Yang saya takutkan saat itu : nyasar dan tidak bisa pulang lagi. Terlalu konyol memang apa yang saya pikirkan. Tapi pikiran konyol saya itu perlahan hilang. Hati saya berhasil meyakinkan saya untuk nekad pergi ke bogor seorang diri.

Selalu ingat dengan kata-kata Pak Budi Soehardi “jika niat kita baik, Tuhan akan selalu menunjukkan jalan”. Setiap saya ragu untuk melakukan sesuatu, ingat dengan kata-kata beliau, seketika keraguan saya hilang.

Saya pun meniatkan pergi ke bogor meski tidak tau saya harus naik mobil apa, naik angkot jurusan apa dan puluhan pertanyaan yang menghantui pikiran saya. Saya pikir, saya harus naik travel agar bisa dianter langsung sampai tempat. Saya pun mencari travel yang bisa mengantarkan saya ke bogor. Dan alhamdulillah, dapat.



Pagi itu, jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Bersiap untuk menunggu jemputan travel. Baru saja beberapa jam di dalam mobil, saya sudah tertidur sehingga tidak tau lewat jalan mana travel ini melakukan perjalanan. Ahhh…. Saya ini memang terlalu. Untuk pergi ke bogor saja sampai kepikiran terus bahkan menyita istirahat malam saya. Efeknya tertidur pulas di mobil.

Entah di daerah mana kami berhenti untuk makan siang dan beristirahat sebentar di sebuah rumah makan pinggir jalan. Di sekitar rumah makan ini tak terlihat rumah-rumah warga, yang terlihat hanya deretan warung-warung yang menjajakan oleh-oleh khas daerah setempat.

Baru saja saya injakkan kaki turun dari mobil, supir travel itu memanggil saya. kami mengobrol rute untuk perjalanan ke Bogor nanti. Sampai akhirnya supir itu pun memutuskan menurunkan saya di terminal Baranang Siang (bogor), dia tidak mau mengantarkan saya samapi tempat yang dituju karena takut terjebak macet dan pulang larut ---tempat yang dituju saya adalah di daerah leuwiliang dan itu masih naik lagi ke daerah pegunungan, lumayan agak pelosok-- Saya coba merengek untuk meminta si supir agar mengantarkan saya sampai tempat dengan iming-iming saya mau menambah ongkosnya. Tapi, tetap saja dia tidak mau dan hanya mau mengantarkan saya sampai terminal Baranang Siang. Dalam hati, ya sudahlah saya jalani saja. toh niat saya baik (Insya alloh).

Saya pun tertidur lagi di mobil. Ketika membuka mata terlihat tulisan di pinggir jalan dengan gambar penunjuk arah. Terlihat tulisan Jakarta Timur. Saya pikir, saya sudah sampai Jakarta berarti sebentar lagi saya sampai bogor. Untuk memastikan saya pun bertanya kepada pak supir

“Pak, sudah sampai mana ini?”

“sudah sampai Jakarta Timur. Kita mengantarkan penumpang dulu di daerah Jakarta. Setelah itu ke bogor” jawab pak supir

“berarti saya terakhir yang diantar ya pak?”
“iya a” kata Pak supir


“Ok deh pak supir saya nurut saja daripada saya nyasar”

Lampu-lampu di pinggiran jalan pun terlihat menyala menerangi jalanan. Ya, akhirnya sudah sore juga (sekitar jam setengah enam sore). Pak supir kembali memanggil nama saya

“a, kita ke jebak macet lagi nih. Saya turunin di stasiun aja ya nanti si aa naek kereta ke Bogor nya” dengan santai pak supir berbicara

“lah… bagaimana sih pak,  katanya  sampai terminal bogor tapi sekarang stasiun. Saya tidak tau jalan pak” jawab saya sambil menahan kekesalan dengan pelayanan travel ini

“kalo kita lanjut ke bogor terlalu malam sampai disana. Jam 12 malam kita baru sampai a”. jawab pak supir dengan santai lagi

Saya diam saja tidak melanjutkan obrolan ini untuk meredakan emosi saya. Pikiran konyol saya pun datang lagi. Saya pasti nyasar dan tidak bisa pulang lagi. Lagi-lagi, ya sudahlah niat saya baik, insa alloh sampai.

Terlihat di depan kami ada pasar dipinggir jalan sebelah kiri bahu jalan. Saya bertanya kepada penumpang depan saya.

“bu, ini daerah mana?”

“ini Kampong Rambutan a” jawabnya

“oh… “ perkataan saya dipotong langsung pak supir

“a saya turunin disini aja ya?’ macet banget . nanti si aa tinggal naik angkot yang jurusan terminal Kampong Rambutan setelah itu nyari bis jurusan Bogor” seperti biasa pak supir ini bicara dengan santai tanpa salah

“Saya tidak tau jalan pak”  masih sambil tahan emosi, saya jawab

“nanti saya turunin di depan deh . nanti tinggal ‘nyetop’ bis arah bogor biar ga ke terminal lagi” Pak supir sambil tersenyum ke arah saya

“ya sudah, kumaha pak supir we lah” jawab saya sudah pasrah.

Dan benar saja, saya pun di turunin di tengah jalan (Kampong Rambutan) oleh pak supir.

Terlihat bis jurusan Bogor yang ukurannya kecil. Kalau di Cirebon, bis ukuran kecil ini biasa disebut KOPAYU atau kalau di Jakarta KOPAJA. Saya pun bertanya kepada seseorang yang berdiri di samping saya yang terlihat sama-sama menunggu bis lewat.

“bang kalo bis jurusan bogor yang kecil ini sampe terminal Baranang Siang ga yah?”

“sepertinya tidak sampe terminal bang” jawabnya

 Oh my god, semakin bingung saja saya dan semakin benar pikiran konyol saya ini. Saya pun menunggu sekitar setengah jam untuk nyetop bis jurusan Bogor yg gede.

Setengah jam berlalu tak terlihat bis yang dimaksud. Akhirnya saya pun memutuskan untuk naik bis kecil ini. Bismillah… saya naik bis kecil ini di deretan bangku paling belakang. saya lihat hanya ada beberapa penumpang dalam bis ini. Di kilometer Depok-Bogor mobil bis ini berhenti untuk manaikkan penumpang. Seorang laki-laki muda yang mungkin berumur 37 tahunan yang bertubuh kekar. Dalam hati saya, sepertinya dia seorang tentara. Dia pun duduk di deretan bangku belakang bersama saya.

“Ma’af Pak, bis ini sampai Terminal Baranang Siang ga?” tanya saya kepada laki-laki itu

“iyah……” jawabnya dengan sikap seperti seorang tentara

“Bapak mau kemana?” tanya saya lagi

“Saya mau ke bogor” jawab laki-laki itu
Mungkin seorang tentara gaya bicaranya begitu, tidak terlalu banyak bicara dan susah senyum. Hp di dalam saku saya pun berdiring. Deringannya menandakan sms masuk. Segera saya ambil hp disaku dan saya buka. Setelah selesai baca dan balas sms. Tiba-tiba laki-laki yang ternyata seorang TNI bertubuh kekar itu mengajak saya ‘ngobrol’. Dan sampai akhirnya bapak ini bertanya tentang wallpaper di hp saya

“Itu poto mas sama siapa?” tanya bapak itu

“itu poto saya bersama murid-murid saya pak?” jawab saya sambil tersenyum

“oh seorang guru toh mas? Senyuman murid-murinya tulus banget. Kayanya mereka sayang yah sama mas?”

“Ya begitu lah pak. Saya sangat dekat dengan mereka tapi sebentar lagi saya berpisah dengan mereka” jawab saya sambil melihat wallpaper di hp

Obrolan kami pun berlanjut sambil menikmati macet sambil diselah-selah obrolan sesekali kami ketawa-ketawa saking serunya obrolan kami. Sampai akhirnya kami berbincang tentang mimpi saya bisa mengajar di pulau terluar (pelosok) dan bisa bergabung dengan Indonesia Mengajar. Kami pun bertukar nomer hp. Sampai akhirnya Pak Toni (nama laki-laki kekar itu) menawarkan untuk tidur di Asrama Kostradnya karena sudah malam. Saya bukannya tidak mau  tapi saya tidak enak oleh orang-orang yang sudah menunggu saya di Bogor. Dan Pak Toni pun menawarkan kembali untuk mengantar saya sampai Terminal Baranang Siang. Padahal asrama nya sebelum terminal.

Alhamdulillah…. Tuhan mengirimkan orang baik untuk saya.

Keraguan dan ketakutan saya di awal pada akhirnya mengantarkan saya selamat sampai tujuan. Memang Tuhan akan menunjukkan jalan ketika niat kita baik. Berani mengambil keputusan itu bukan hal ceroboh tapi hal yang mesti dijalani dengan tanggung jawab. Saya rasa perjalanan ini banyak poin-poin luar biasa yang bisa saya ambil. Kita belajar melihat dari sudut pandang dari orang-orang yang kita temui disepanjang perjalanan kita. Bahwa tidak semua di dunia ini sama. Bahwa kita hidup memang berkat bantuan orang lain. ya, kita lahir ditolong oleh bidan, kita makan berkat para petani. Ketika orang lain mengecewakan kita, biarkan orang itu seperti itu. Balaslah dengan senyuman bukan dengan hardikan atau cemo'ohan. Jadi,  sikap saling menghargai jauh lebih memperkuat kita daripada cemo’ohan dan rasa benci. Terima kasih Pak Supir Travel yang selalu santai dan terima kasih sekali kepada Pak Toni “Kostrad’ yang mau mengantarkan saya. . Ini lah perjalanan sesungguhnya buat saya.


Iinilah wallpaper di hp saya yang memikat hati Pak Toni :)

Komentar

  1. wahhhh salut buat pa angyar sulaeman. semoga apa yg di cita citakan pa angyar cepet tercapai

    BalasHapus
  2. aamiin Allohuma aamiin.. hatur nuhun mang eko doa na. mugia sehat selalu di saudi. aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I LOVE YOU

Suatu hari sepulang sekolah ketika kami masih duduk di sekolah dasar, Anne, adik perempuanku satu-satunya, berlari-lari menghampiriku. "Kak, aku mau ke perpustakaan kota, tapi aku nggak punya kartu anggotanya." Aku yang tahu betul si kecil Anne-ku tak terlalu suka membaca buku, heran. "Kamu mau pinjam buku apa? Kenapa nggak pinjam buku di perpustakaan sekolah saja?" Anne menggeleng. Tangannya memilin-milin ujung rok dengan gelisah. "Umm, di perpustakaan sekolah bukunya nggak ada sih, Kak." "Buku apa sih? Kakak punya kartunya kok. Ayo Kakak antar," ujarku. Dan kami berdua pun berjalan kaki menuju perpustakaan kota yang tak jauh letaknya dari rumah dan sekolah kami waktu itu. Sesampainya di depan perpustakaan kota, Anne langsung menghambur menuju ke rak-rak berisi buku-buku yang sangat besar. Aku menunggunya sambil membaca majalah. Ia kembali dengan menggotong buku sangat tebal berjudul "Bahasa Isyarat Untuk Pemula". "Ad...

Lari Pagi With Future Leaders

Pagi ini adalah pagi yang penuh keceriaan bagi saya dan  beberapa murid-murid saya dan guru mereka. Selama ini saya melakukan lari pagi sendirian, kalaupun tidak sendirian paling bareng teman, itupun kalo ada yang ngajak  tapi pagi ini saya bersama murid-murid saya meskipun tidak jauh jarak yang di tempuh tapi cukuplah buat membuka semangat baru di pagi ini. Awalnya beberapa anak dan guru mereka sudah berkumpul di depan rumah saya dan mereka mengajak lari pagi bersama, karena saya baru tidur setelah semalam begadang nonton bola saya pun menyuruh mereka untuk berlari duluan. Pada awalnya para guru mengajak murid-murid untuk lari pagi di hari minggu dan mereka menempuh jarak dekat-dekat saja, tiga sampai lima km tergantung jarak rumah mereka. Tetapi hari ini, kami berjanji untuk bangun pagi-pagi sekali dan lari pagi dari Desa Lojikobong sampai  ke Desa Kodasari yang jalannya sekitar 3 km dari rumah saya, bolak-balik berarti sekitar 6km. Saya mul...

I'll Love You For a Thousand years more

"..... I have loved for you a thousand years, I'll love you for a thousand years more...." Pasti kalian tau sebuah penggalan lirik diatas? Yupz, itu lirik dari lagunya Cristina Perri with A Thousand Years. Sebuah soundtrack dari film Breaking Down. Saat ini teman saya memutarkan lagu ini dari laptop yg saya pinjam untum mengetik materi pelajaran untuk saya mengajar hari ini, dan saya langsung suka apalagi mendengar teman saya bercerita tentang isi dari lirik lagu ini. Sepertinya Cristina Perri membawakan lagu ini memiliki makna yang mendalam, apalagi untuk orang-orang yg terwakili hatinya. Terwakili hatinya? Yupz, saya rasa lagu ini sangat tepat mewakili hati saya saat nanti saya bersama murid saya mendengarkan lagu ini disaat perpisahan nanti sambil saya berucap ".... I'll love you for a thousand years more...." Masa tugas saya bersama ke-sembilan teman saya lainnya akan berakhir sekitar 28 hari lagi atau tepatnya sampai tanggal 31 Oktober 2012...