Langsung ke konten utama

Habitat Perempuan : Dapur, Sumur, Kasur (?)


Di dunia ini, Cuma ada laki-laki dan perempuan (kecuali yang kelainan). Jumalh laki-laki pun hampir sama dengan perempuan. Tapi nyata-nyata, perempuan lebih sering dibicarakan. Dan yang membicarakan perempuan pun laki-laki yang jelas bukan perempuan.
Ditambah  oret-oretan ini, semakin panjang pula daftar laki-laki yang omong perempuan. Kadang-kadang (atau sering) pembicaraan soal perempuan seakan memosisikan mereka pada entitas yang berbeda, seakan mereka sesuatu yang lain dan asing.
Laki-laki dan perempuan pastinya berbeda. Yang paling jelas tentu dari penampakan fisik. Tugas khusus laki-laki dan perempuan juga beda. Mereka pun ditugaskan untuk mengisi keping puzzle yang berbeda. Cuma, adakah persamaan yang kemudian mengatasi semua perbedaan itu? Ternyata ada. Persamaan akan semakin tampak kalau kita menengok pada entitas yang merangkum semua laki-laki dan perempuan di dalamnya, yaitu manusia.
Setiap manusia diberikan secara Cuma-Cuma bertumpuk potensi kemanusiaan oleh-Nya. Ada yang pintar nyanyi, ada yang pujangga, ada yang suka sambal terasi, ada yang favoritnya makan raginang, pokoknya macam-macam.
Kalau kita teropong lagi, kesukaan Sarniem pada sambal terasi adalah sesuatu yang bebas gender. Kemampuan Iti menyanyi pun bebas gender. Tak ada cerita, suka terasi itu maskulin, terus pintar nyanyi itu feminim.
Ternyata, potensi kemanusiaan itu diberikan kepada semua manusia tanpa pilih-pilih. Jadi akhirnya, dia pun bebas gender. Artinya, laki-laki maupun perempuan bisa menyimpan kualitas yang sama.
Karena sama-sama manusia, setiap laki-laki dan perempuan tentu punya hak untuk mengembangkan seluruh potensinya ini. Sebab, mengembangkan potensi sudah tentu adalah bentuk rasa syukur atas nikmat-Nya, sedang melalaikannya bisa terjerumus pada lubang kufur.
Akhirnya, ini bukan lagi masalahn siapa yang mesti bekerja, bukan sekedar perihal siapa yang harus cari duit, bukan pula sebuah simpulan, asal kebutuhan keluarga sudah tercukupi, maka perempuan mesti menetap diam di rumah. Ini semata karena setiap manusia diberikan begitu banyak kemampuan, dan untuk itu mereka berhak mengembangkan semua kemampuan yang dimiliknya itu. Mengembangkan semua kemampuan tanpa mesti keluar dari slot puzzle-nya.
Kerana manusia mengatasi semua laki-laki dan perempuan, jadi akan lebih bijak tidak langsung bilang tidak sekadar karena dia laki-laki atau perempuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I LOVE YOU

Suatu hari sepulang sekolah ketika kami masih duduk di sekolah dasar, Anne, adik perempuanku satu-satunya, berlari-lari menghampiriku. "Kak, aku mau ke perpustakaan kota, tapi aku nggak punya kartu anggotanya." Aku yang tahu betul si kecil Anne-ku tak terlalu suka membaca buku, heran. "Kamu mau pinjam buku apa? Kenapa nggak pinjam buku di perpustakaan sekolah saja?" Anne menggeleng. Tangannya memilin-milin ujung rok dengan gelisah. "Umm, di perpustakaan sekolah bukunya nggak ada sih, Kak." "Buku apa sih? Kakak punya kartunya kok. Ayo Kakak antar," ujarku. Dan kami berdua pun berjalan kaki menuju perpustakaan kota yang tak jauh letaknya dari rumah dan sekolah kami waktu itu. Sesampainya di depan perpustakaan kota, Anne langsung menghambur menuju ke rak-rak berisi buku-buku yang sangat besar. Aku menunggunya sambil membaca majalah. Ia kembali dengan menggotong buku sangat tebal berjudul "Bahasa Isyarat Untuk Pemula". "Ad...

Lari Pagi With Future Leaders

Pagi ini adalah pagi yang penuh keceriaan bagi saya dan  beberapa murid-murid saya dan guru mereka. Selama ini saya melakukan lari pagi sendirian, kalaupun tidak sendirian paling bareng teman, itupun kalo ada yang ngajak  tapi pagi ini saya bersama murid-murid saya meskipun tidak jauh jarak yang di tempuh tapi cukuplah buat membuka semangat baru di pagi ini. Awalnya beberapa anak dan guru mereka sudah berkumpul di depan rumah saya dan mereka mengajak lari pagi bersama, karena saya baru tidur setelah semalam begadang nonton bola saya pun menyuruh mereka untuk berlari duluan. Pada awalnya para guru mengajak murid-murid untuk lari pagi di hari minggu dan mereka menempuh jarak dekat-dekat saja, tiga sampai lima km tergantung jarak rumah mereka. Tetapi hari ini, kami berjanji untuk bangun pagi-pagi sekali dan lari pagi dari Desa Lojikobong sampai  ke Desa Kodasari yang jalannya sekitar 3 km dari rumah saya, bolak-balik berarti sekitar 6km. Saya mul...

I'll Love You For a Thousand years more

"..... I have loved for you a thousand years, I'll love you for a thousand years more...." Pasti kalian tau sebuah penggalan lirik diatas? Yupz, itu lirik dari lagunya Cristina Perri with A Thousand Years. Sebuah soundtrack dari film Breaking Down. Saat ini teman saya memutarkan lagu ini dari laptop yg saya pinjam untum mengetik materi pelajaran untuk saya mengajar hari ini, dan saya langsung suka apalagi mendengar teman saya bercerita tentang isi dari lirik lagu ini. Sepertinya Cristina Perri membawakan lagu ini memiliki makna yang mendalam, apalagi untuk orang-orang yg terwakili hatinya. Terwakili hatinya? Yupz, saya rasa lagu ini sangat tepat mewakili hati saya saat nanti saya bersama murid saya mendengarkan lagu ini disaat perpisahan nanti sambil saya berucap ".... I'll love you for a thousand years more...." Masa tugas saya bersama ke-sembilan teman saya lainnya akan berakhir sekitar 28 hari lagi atau tepatnya sampai tanggal 31 Oktober 2012...