Langsung ke konten utama

Veggies for the sake of the world, huh?

Fakta lapangan: sekarang jadi makin banyak orang yang ganti kebiasaan makan daging mereka jadi makan sayuran doang alias vegetarian. Hmm. Beberapa untuk kesehatan, menghindari kolesterol jahat dan sembelit dan apalah itu. Ada juga yang jadi veggie karena akses dapetin daging susah (di zaman ini padahal.. yauda sih). Ada juga karena konsideran-konsideran lain. Sejauh ini aku belum nemu urgensinya jadi veggie jadi sampai hari ini aku masih jadi pengonsumsi daging yang loyal, malah aku mikir kalo ga makan daging, entah itu sapi ato ayam, ato ikan, ada beberapa nutrisi yang ga diterima sama tubuh. Protein misalnya. Angka terbesar asupan protein itu kan dari hewan. Oke, kacang-kacangan dll juga berprotein, cuma kan tetep aja beda jumlahnya dibandingkan daging.
Akhirnya tanya mbah gugel dan baca beberapa buku, ceritanya penasaran nih, emang selain jadi makan yang berserat-serat dan mempermudah urusan di bilik pribadi plus mengurangi risiko punya timbunan kolesterol ga guna dalam tubuh, baiknya vegetarian itu apa lagi. Nemulah sebuah website tentang komunitas vegetarian di UK.Terperanjatlah aku pas baca beberapa isi tulisannya (ga terperanjat gimana juga sih). Ternyata banyak banget yang bisa berubah dengan simply change your eating habits. Ga cuma buat badan sendiri tapi buat dunia ini. Jadi, pola makan veggie itu memungkinkan sisa-sisa karbon berkurang drastis sampai menghemat air dan lahan yang berdampak besar banget sama lingkungan, termasuk untuk kehidupan laut! Bukan besar lagi, it’s totally huge, indeed!
Peternakan bertanggung jawab atas 20% emisi karbon yang manusia hasilkan, sebuah angka besar untuk terbentuknya gas rumah kaca. Karbon dioksida (CO2) tercipta saat pembukaan lahan atau waktu memproduksi makanan buat si hewan ternak tadi. Ga cuma CO2 yang berbahaya. Metana (CH4), 37%-nya dihasilkan oleh ternak (kurang lebih seekor ternak menghasilkan 500 liter metana per harinya) dan CH4 berefek 25x lebih merusak daripada karbon. Nitrogen oksida (NO2) juga, 300x lebih parah dari karbon, dan nyaris 65%-nya dihasilkan oleh ternak, terutama dari kotoran mereka. Bayangin kalo semua orang mengurangi konsumsi daging—terutama sapi, kambing, produk peternakan gitu-gitu—seberapa besar kita bisa bantu mengurangi beban iklim bumi ini? Walaupun emisi gas karbon dari industri dan sebagainya belum mungkin berkurang secara signifikan dalam waktu dekat ini, setidaknya udah berkurang tuh bebannya sedikit.
Sekarang dari sisi per-air-an. Tau kan, zaman sekarang kekeringan makin menjamur di mana-mana. Iklim yang ga jelas—gara-gara gas rumah kaca tadi itu loh—bikin hujan kadang turun kadang ga, labil deh pokoknya. Dan kurang lebih satu miliar orang di dunia ini ga punya akses untuk air bersih atau mengalami kelangkaan di daerah mereka dan diperkirakan 2025 nanti bakal ada 1,8 miliar manusia yang sama sekali ga kenal lagi sama yang namanya air bersih. Waduh. Nah terus, emang kalo jadi vegetarian bisa nyelesein masalah ini? Oh, bisa banget. Ternyata, peternakan pake 8% dari air bersih di dunia, diperkirakan untuk menghasilkan sekilo daging itu antara 13.000-100.000 liter air, sementara untuk menghasilkan sekilo gandum cuma butuh 1.000-2.000 liter air. Yah, mungkin kalo pake perbandingan ini kelihatannya timpang, daging sapi vs gandum kok. Tapi coba dilihat dari sisi konsumsinya. Jadi vegetarian secara ga langsung menyimpan air bersih untuk kegunaan lainnya selain ngasih minum sapi-sapi. Airnya bisa di-save buat orang-orang yang ngalamin kelangkaan. Oke kan tuh.
Terus juga, lahan untuk peternakan kan ga cuma sepetak dua petak. Butuh lahan yang luaaaaas banget buat tempat lari-larinya si sapi untuk menikmati hidup sebelum dibawa ke rumah jagal. Ga ada kan peternakan cuma berapa meter persegi luasnya? Padahal lahan itu bisa aja tuh buat dijadiin area penghijauan dan bukan lahan terbuka karena peruntukkan peternakan tadi. Terus, ga cuma lahan buat ternaknya doang yang mesti ada, lahan buat bikin makanan si ternak itu juga harus ada. Jadilah dua lahan buat satu peternakan. Mungkin karena itu, 70% deforestasi Amazon disebabkan peternakan, didukung banyak hal juga sih. Nah, ternyata sekali lagi, veggie bisa menjawab problema ini. Kita cuma butuh lahan untuk numbuhin bahan pangan dari tetumbuhan. Ditambah lagi, tetumbuhan tadi bisa bantuin mengonversi karbon jadi oksigen. Wuih efeknya!
Kehidupan laut juga terbantu loh sama pola makan vegetarian ini. Beberapa orang mungkin ga makan daging, tapi mereka teterusan makan ikan. Statistiknya, perikanan dunia menghasilkan 143,6 juta ton hasil laut/perairan tawar dan 110,4 juta ton itu dimakan manusia. Itu tahun 2006. Di tahun 2030, angka itu bakal naik 37 juta ton. Saking banyaknya manusia yang pengen makan banyak ikan, dari 19% area perikanan, 8% di antaranya udah kehabisan ikan. Terus, tiap tahunnya ada 300.000 paus, lumba-lumba, kawan-kawan yang mati karena salah tangkap ato sebagai efek penangkapan ikan itu tadi. Kehidupan laut akan sangat tertolong kalo misalnya banyak orang berhenti ngunyah bandeng presto ato beli kepala kakap, ganti sama gerogotin wortel atau brokoli si superfood.

Anthrax, penyakit sapi gila, juga penyakit kuku dan mulut (hoofs and mouths) bakal musnah dari dunia ini, wong cuma dikit sapinya. Cacingan karena ada bangsa nematoda masuk ke usus lenyap dari muka bumi. Pokoknya penyakit-penyakit yang disebabkan ato diperantarai sama hewan ternak: no longer exist in this world. Sehaaat! Udah gitu makanan kita berserat semua, ga ada tuh sembelit dkk, kolesterol darah juga ikut keserap. Makin asik aja nih.
Nah, tadi itu beberapa hal yang bikin vegetarian bisa jadi salah satu solusi dari masalah lingkungan yang mengkungkung setiap manusia di jagad raya ini (errr.. sadar agak lebay sih bahasanya). Sekarang juga aku udah mulai mikirin untuk jadi veggie. Walaupun itu sulit, man jadda wa jadda (emang nyambung ya??).
Tapi, udah jadi common sense lah, kalo setiap hal itu sama persis kayak uang koin seribuan yang baru: punya dua sisi (jangan mikir ke gambar angklungnya). Semua hal punya sisi baik buruk. Buat lingkungan, oke, vegetarian bener-bener membantu karena mengubah banyak sekali aspek. Di sisi kesehatan juga ada. Tapi buat manusianya, itu jadi masalah tersendiri.
Andaikata semua manusia yang berdiri di kerak bumi ini vegetarian dan ga makan daging atau ikan. Sapi ada hanya untuk memproduksi susu buat orang-orang yang ga mungkin minum ASI lagi dan ikan mungkin cuma ikan kod, buat diekstrak minyak hatinya. Ga akan ada lagi yang namanya dunia peternakan kayak sekarang. Nah terus yang kerja di peternakan gimana? Yang kerja di rumah pemotongan hewan gimana? Yang ngebungkusin daging-daging tadi gimana? Yang narik truk buat bawa daging yang udah dipotongin dari gudang ke wholesale market gimana? Yang kerja jadi tukang daging di pasar gimana? Yang jual pakan ternak gimana? Yang bikin peralatan buat di peternakan gimana? Dan yang penting adalah ga akan ada pajak dari semua hal yang tadi disebutin, padahal pemerintah ngambil duit juga dari pajak-pajak itu. Nah loh. Jadi masalah ekonomi gini kan?
Terus, baiknya gimana dong? Share your minds, fellas! ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I LOVE YOU

Suatu hari sepulang sekolah ketika kami masih duduk di sekolah dasar, Anne, adik perempuanku satu-satunya, berlari-lari menghampiriku. "Kak, aku mau ke perpustakaan kota, tapi aku nggak punya kartu anggotanya." Aku yang tahu betul si kecil Anne-ku tak terlalu suka membaca buku, heran. "Kamu mau pinjam buku apa? Kenapa nggak pinjam buku di perpustakaan sekolah saja?" Anne menggeleng. Tangannya memilin-milin ujung rok dengan gelisah. "Umm, di perpustakaan sekolah bukunya nggak ada sih, Kak." "Buku apa sih? Kakak punya kartunya kok. Ayo Kakak antar," ujarku. Dan kami berdua pun berjalan kaki menuju perpustakaan kota yang tak jauh letaknya dari rumah dan sekolah kami waktu itu. Sesampainya di depan perpustakaan kota, Anne langsung menghambur menuju ke rak-rak berisi buku-buku yang sangat besar. Aku menunggunya sambil membaca majalah. Ia kembali dengan menggotong buku sangat tebal berjudul "Bahasa Isyarat Untuk Pemula". "Ad...

Lari Pagi With Future Leaders

Pagi ini adalah pagi yang penuh keceriaan bagi saya dan  beberapa murid-murid saya dan guru mereka. Selama ini saya melakukan lari pagi sendirian, kalaupun tidak sendirian paling bareng teman, itupun kalo ada yang ngajak  tapi pagi ini saya bersama murid-murid saya meskipun tidak jauh jarak yang di tempuh tapi cukuplah buat membuka semangat baru di pagi ini. Awalnya beberapa anak dan guru mereka sudah berkumpul di depan rumah saya dan mereka mengajak lari pagi bersama, karena saya baru tidur setelah semalam begadang nonton bola saya pun menyuruh mereka untuk berlari duluan. Pada awalnya para guru mengajak murid-murid untuk lari pagi di hari minggu dan mereka menempuh jarak dekat-dekat saja, tiga sampai lima km tergantung jarak rumah mereka. Tetapi hari ini, kami berjanji untuk bangun pagi-pagi sekali dan lari pagi dari Desa Lojikobong sampai  ke Desa Kodasari yang jalannya sekitar 3 km dari rumah saya, bolak-balik berarti sekitar 6km. Saya mul...

I'll Love You For a Thousand years more

"..... I have loved for you a thousand years, I'll love you for a thousand years more...." Pasti kalian tau sebuah penggalan lirik diatas? Yupz, itu lirik dari lagunya Cristina Perri with A Thousand Years. Sebuah soundtrack dari film Breaking Down. Saat ini teman saya memutarkan lagu ini dari laptop yg saya pinjam untum mengetik materi pelajaran untuk saya mengajar hari ini, dan saya langsung suka apalagi mendengar teman saya bercerita tentang isi dari lirik lagu ini. Sepertinya Cristina Perri membawakan lagu ini memiliki makna yang mendalam, apalagi untuk orang-orang yg terwakili hatinya. Terwakili hatinya? Yupz, saya rasa lagu ini sangat tepat mewakili hati saya saat nanti saya bersama murid saya mendengarkan lagu ini disaat perpisahan nanti sambil saya berucap ".... I'll love you for a thousand years more...." Masa tugas saya bersama ke-sembilan teman saya lainnya akan berakhir sekitar 28 hari lagi atau tepatnya sampai tanggal 31 Oktober 2012...